Friday, 4 April 2008

Ternyata Pram Lebih Besar dari yang Kita Duga, oleh Jo Pakagula

Menakar seorang Pramoedya Ananta Toer tidaklah mudah. Membicarakannya, secara tak sadar juga kerap menyeret kita kepada prasangka keberpihakan. Kesan masyarakat sastra terhadap Pram pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok. Satu pihak memujinya selangit dan memujanya bak tanpa cela, pihak lain mencercanya habis-habisan tanpa mau menyelami lebih dalam siapakah sebenarnya Pram. Namun beberapa tahun terakhir nampaknya kian kentara upaya untuk menilai nominator Nobel bidang Sastra dan penerima Hadiah Magsaysay ini secara proporsional, lebih fair dan dengan hati yang jernih. Meski maaf, penilaian semacam ini masih sangat jarang kita dengar.
Memang susah untuk memahami Pram secara utuh sebagai sastrawan. Sudut pandang yang dibidik biasanya disertai balutan sastra yang kendati tipis, masih tercium bau kepentingan-kepentingan yang tak jelas relevansinya.
Bicara soal Pram kasusnya mirip-mirip dengan dua nama besar di Republik ini. Ketika ekonomi menjadi panglima, kebanyakan orang yang anti Soekarno hanya menonjolkan kekurangan, kesalahan dan sisi-sisi negatifnya, serta tak mau menyadari bahwa jasa Soekarno besar – bahkan sangat besar – bagi eksistensi NKRI. Jiwa patriotisme dan nasionalisme yang dikobarkannya dulu, terasa sangat dibutuhkan tatkala kondisi negara makin morat-marit dihantam krisis dan bencana, hingga kini.
Demikian pula dengan sosok Soeharto. Mereka yang tak suka akan cenderung melihat ‘tersangka sampai mati’ ini dari sisi gelapnya saja, sementara ada juga yang merasa yakin, pada zaman Orba pun terselip episode-episode yang terbilang manis bagi mereka. Tak mengherankan apabila pemahaman secara hitam-putih sering mengaburkan sensitivitas kita terhadap detail lain dari sang tokoh yang sedang kita perbincangkan. Pada akhirnya, kepicikanlah yang menyeruak, bukan kejernihan.
Politikus dan sastrawan memang berbeda, walau dalam beberapa tujuan bisa saling memanfaatkan. Begitu pula antara politikus dan intelektual, dua ‘profesi’ yang dapat bekerjasama sekaligus bisa saling menjatuhkan. Seorang rekan anggota Dewan pernah berterus-terang, di sela-sela persidangan yang nampak serius atau diserius-seriuskan, para wakil rakyat ternyata suka bercanda. Salah satu kelakarnya, “Seorang intelektual boleh salah, tetapi harus jujur. Sedangkan seorang politikus (termasuk mereka sendiri, anggota Dewan yang terhormat) tidak boleh salah, namun boleh tidak jujur.” Agak susah menebak sejauh mana tingkat akurasi kesesuaian kelakar ini dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Layaknya perjalanan seorang anak manusia, Pram pun mengalami pasang-surut. Pada masa-masa sulit itulah pengarang yang memiliki memori kuat ini dirangkul oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), yang memberikan tawaran cukup menggiurkan, antara lain berupa bantuan finansial dan order penerjemahan. Jadi, untuk urusan ‘dapur’ bagi Pram dianggap telah aman-aman saja. Secara sengaja atau tidak, Pram sering berperan sebagai corong kelompoknya, walau banyak rekan-rekannya yang sangsi, sebab secara ideologi belum tentu pengarang yang ‘keras hati’ sekelas Pram ini dengan mudah dapat dikendalikan.
Namun kenyataannya, tulisan Pram jadi kian garang. Ia memimpin rubrik Lentera yang muncul seminggu sekali di harian Bintang Timur. Di sana ia leluasa untuk menyerang seniman dan sastrawan yang bersebrangan dan berbenturan paham dengannya.Tudingan plagiator sempat hinggap pada Hamka. Dalam hal ini HB Jassin sebagai kritikus sastra berkomentar (dengan disertai argumentasi yang begitu kuat), bahwa Hamka memang sangat terpengaruh Al-Manfaluthi, tetapi jelas-jelas Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk bukanlah karya plagiat. Artinya, dalam usaha ‘pembunuhan karakter’ ini memang terdapat unsur non sastranya. Kita tahu, Hamka selain sastrawan juga seorang ulama karismatik.
Tak cukup di sini. Tuduhan kepada Hamka kian ganas hingga ia mesti meringkuk dua setengah tahun dalam tahanan – tanpa proses peradilan – karena diduga makar dan berkomplot untuk membunuh Presiden. Apa mau dikata, pada era tersebut menentang penguasa akan dicap sebagai kontra revolusioner, komunisto phobi atau anti Nasakom. Stempel seperti tidak bisa dianggap main-main.
Budayawan dan sastrawan yang tak setuju dengan pemikiran Pram dan kawan-kawannya pun akhirnya menandatangani Manifesto Kebudayaan yang akhirnya dilarang oleh Pemerintah. Musik ‘ngak-ngik-ngok’ ala Koes Plus yang membius dan lagu cengeng Rachmat Kartolo yang mendayu pun jadi korban pelarangan karena dikhawatirkan mengendorkan semangat revolusi.
Toh, kita tetap tidak bisa menyalahkan Pram seorang. Ada sistem yang lebih besar, dengan otak-otak cemerlang yang merancang konsep dengan rapi serta menerapkannya dalam berbagai strategi guna memuluskan pencapaian keinginan mereka. Barangkali saja mereka memang piawai dalam memanfaatkan nama besar Pram. Kesalahan atau mungkin sesuatu yang mungkin dianggap salah itu, kini telah dibayar tunai oleh Pram. Penulis besar ini harus merasakan hidup terbuang selama sepuluh tahun di pulau Buru.
Tahun 70-an Jendral Sumitro sempat mengunjungi Pram di sana. Kunjungan ini berlanjut dengan penyerahan sebuah mesin ketik manual kepada Pram. Tapi tak seorang pun pernah mengira dari mesin ketik hadiah Jendral Sumitro ini akhirnya lahir novel-novel monumental semacam Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Jejak Langkah serta beberapa judul naskah lainnya. Rupanya ada kesamaan yang menarik antara Pram dan Hamka. Dalam tahanan yang dilengkapi dengan beberapa model penyiksaan itu – termasuk disundut rokok – Hamka justru bisa menyelesaikan Tafsir Al-Azharnya, pekerjaan yang pasti mustahil ia kerjakan jika berada di luar tahanan. Hamka saat itu memang luar biasa sibuknya berceramah. Pram pun demikian, di tengah tekanan fisik maupun psikis, karya-karyanya yang hebat justru dapat tercipta.
Terlepas dari pernik politik serta segala sebab dan akibatnya, Pram memang seorang penulis besar. Sejak muda hidupnya diabdikan untuk mengembangkan dunia sastra. Tentu ada saatnya pendewasaan itu sedang berproses. Namun bahwa karya-karyanya secara kualitas sangat hebat dan mengagumkan, itu sudah diakui masyarakat sastra. Produktivitasnya pun sulit ditandingi. Tak kurang dari 53 judul buku telah diterbitkan, bahkan sebagian di antaranya sudah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa dunia.
Saya jadi ingat sebuah film Nasional yang berjudul ‘Andai Ia Tahu’. Tokoh wanita dalam film tersebut – seorang penulis lepas – suatu ketika terjebak dalam lift macet. Ia hanya berdua saja dengan seorang cowok. Setelah berkenalan dan berbasa-basi sejenak, sang pria tiba-tiba bertanya, “Apakah obsesi utamamu ?” Tokoh wanita tadi menjawab cepat, “Ingin duduk bareng dan ngobrol sama Om Pram!”
Pram tetap seorang manusia, ada kurang dan lebihnya. Kata Agus Miftach (dari BAKIN) yang diberi tugas untuk mengawasi gerak Pram, penulis kelahiran Blora ini memang terlihat tak pernah sholat. Tetapi jika anaknya terlambat sholat, maka ia akan langsung mengingatkannya. Ketika anaknya mau menikah, ia malah menyuruh sang anak dan calon menantunya untuk belajar agama dulu kepada Hamka, ‘sahabat’ yang pernah dijegalnya sekian tahun sebelumnya.
Apa kata Pram tentang kematian? Penulis yang pernah mendapat surat dari Presiden Soeharto serta sempat membalasnya ini menyatakan, “Kelahiran selalu ditunggu orang padahal belum pasti datang. Sedangkan kematian pasti datang, tapi tidak ditunggu.”
Terakhir, kebesaran dan kehebatan Pramoedya Ananta Toer bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan atau dipaksakan. Ia bahkan lebih besar dari yang kita duga. Kiprahnya dalam dunia sastra sangat mencengangkan, dalam makna yang positif. Karya-karyanya luar biasa, banyak tokoh-tokoh masyhur yang mengidolakannya, termasuk mereka yang bersebrangan dengannya. Tentu saja pengakuan ini bukan lantas membenarkan ‘semua’ yang pernah ditempuh dan dilakukannya. Itu persoalan lain yang sebaiknya tidak menjebak kita untuk selalu menoleh ke belakang dan mengaduk-aduk sejarah tanpa mengandung faedah bagi langkah kita ke depan.
Karanganyar, pertengahan Maret 2008

Biografi Pramoedya Ananta Toer, oleh Joko Sumantri

gambar diambil dari: http://www.fhayhadi.com/2016/05/02/pramoedya-ananta-toer/

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Hoakiau di Indonesia
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang .

Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsasay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada jaman demokrasi terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Multikulturalis
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Di Pinggir Kolam Menikmati Pram, oleh Joko Sumantri

“Sekali dalam seumur hidup manusia harus menentukan sikap kalau tidak
dia tidak akan menjadi apa-apa....”

Kalimat tersebut dikemukakan oleh Fanny Cotimah, menyitir dari novel “Bumi Manusia” Pramoedya Ananta Toer (PAT). Fanny, seorang ibu rumah tangga asli Bandung dan kini tinggal di Solo menemukan kata-kata tersebut dan ikut mendorongnya melakukan sekian keputusan, termasuk hijrah ke tempatnya sekarang.
Bagi Fanny yang lumayan banyak melalap karya-karya Pram, pencerahan semacam merupakan penguat bagi pengambilan keputusan yang tidak mudah. Meskipun fiksi, tetralogi Pulau Buru pembaca dapat mendalami kisah-kisahnya, seakan-akan bercermin pada kolam bening masa lalu. Pram amat piawai menghadirkan kelampauan dalam berbagai renik konflik, kesulitan hidup, sekaligus ketegaran menghadapinya.
Apabila kita sekali saja membaca tetralogi, dan lalu membandingkan persoalan hidup kita sendiri, rasanya tidak ada apa-apanya.
Sovie, pelajar SMA 2 Solo, membaca Cerita dari Blora yang berkisah kepulangan seorang anak saat ayahnya sakit keras dan hendak terjemput ajal. Detik-detik penggambaran yang dilakukan Pram seakan membuat kisah sederhana ini menjadi sulit dilupakan.
Sementara Riri yang juga masih kelas 1 SMA MTA Semanggi Solo, Pram menawarkan berbagai hal yang tidak tertemui dalam buku pelajaran sejarah. Yang tentu saja jauh lebih menarik. Riri sudah khatam membaca “Panggil Aku Kartini Saja”.
Yudi Agusta Akhir memberi pengalaman menarik. Dia mengaku telah membaca buku “Arus Balik” yang tebal sekali itu hingga dua kali. Yudi membaca novel tersebut secara spartan sepanjang hari. Sekali berhenti dan mencoba istirahat, pikirannya seperti terhantui alur cerita dan nasib tokoh-tokoh dalam novel tersebut.
Jagoan-jagoan esai PAWON, Kabut dan Haris Firdaus, memberi perimbangan atas bincangan yang cenderung memitoskan Pram ini. Kabut mengaku tertarik dnegan esai-esai Pram di tahun 1960-an, dimana Pram bertempur dengan tokoh-tokoh sastra yang lain. Sementara Haris banyak mereferensi pada buku Eka Kurniawan, “Realisme Sosialis” yang mempertanyakan penokohan Pram dan pengangkatan karya-karyanya setinggi langit. Bagi Haris sesuai praduga Eka, Pram dilingkungi oleh berbagai pengalaman hidup yang mencengangkan sekaligus mengharukan. 

* * *

Barangkali demikianlah gambaran singkat perbincangan kami mengambil tema “Aku dan Pram”. Obrolan bertempat di pinggir kolam Balekambang yang eksotik, tempat dimana dahulu hanya keluarga bangsawan yang bisa mengaksesnya. Kami beromobongan duduk melesah pada tikar dan karpet. Menikmati hawa sejuk, air yang memancar, juga angin.
Perbincangan memang tidak bertendensi untuk mengupas karya-karya Pram seilmiah mungkin. Sekedar cerita-cerita persentuhan tiap-tiap pribadi dengan karya-karya Pram. Jadilah sebuah diskusi yang mengalir, mungkin tak sistematis karena banyak intermezzo (terlalu banyak malah!). Tapi gak papa juga toh?

Jam tiga lewat hampir jam empat, Pram!, oleh Dani Fuadhillah

Sebenarnya aku tidak berani untuk menceriterakan tentang diri kamu, apalagi kalau harus berkoar-koar, seolah aku ini benar-benar kenal dekat dengan kamu. Menulis tentang kisah-kisah kamu, tentang kamu punya pengalaman, tentang kamu punya pena sakti yang dapat mengeluarkan cairan tinta beraroma wangi, dapat merangkaikan setiap kata menjadi kalimat-kalimat yang tajam menusuk dan menyayat hati setiap orang yang pernah kamu, -dalam tanda petik- kamu garis bawahi. Menggambarkan tentang sosok kamu, perangai kamu, sepak terjang kamu dan semua tentang kamu. Ngeri aku melakukannya. Namun begitulah adanya, sebab bukti dan fakta yang ada.
Sebagai satu bukti tentang tinta beraroma wangi itu. Sampai saat ini semerbak baunya masih merebak serasa tidak jauh dari setiap nafas-nafas yg lepas dari berbelas-belas pasang lobang hidung yang pernah sama-sama merasai, menciumi musim, dengan segala ragam aroma basah dan segar di masa-masa yang sudah.
Terbukti tunas-tunas dari asal patahan zaman yang carut sampai ke carut hilang datang maut, masih merembangkan wangi itu. Bahkan sampai orang masih melihat carut-marutnya ini kamu punya negeri, ini aku punya negeri, ini kita punya negeri. Tunas-tunas itu ternyata adalah memang benar menguap dari cairan tinta wangi, dari pena saktimu. Sampai ke seberang. “Dahsyat!”.
Tapi, sebelum lebih lanjut lagi. Aku mohon maaf atas keterbatasan dari segala batasan-batasan yang sedang senantiasa aku perlebar, perpanjang, perluas. Mudah-mudahan hal ini tidak tergolong ke dalam golongan kaum imperialis, kolonialis, kapitalis. ”Entahlah!”.
Sebagai maghrib yang baru meninggalkan sore, mungkin ini adalah suara bedug atau kumandang azan petang dari surau-surau, bermekaran bunyi dimana-mana. Dimana saat itu pula adalah waktu bertumbuh-mekarnya kuntum-kuntum bunga sedap malam. Dari itu pulalah sehisap bau aroma wangi baru gerayangi indera penciuman ini.
Pram! Ups! Maaf, kalau aku sampai mengucap panggil sepotong nama kamu itu. Yang itu sebenarnya semakin membuat aku tidak berani untuk lebih lama lagi menceritakan tentang diri kamu. Apalagi kalau harus sampai berjam-jam. Seolah-olah aku benar-benar pernah karib sambil merokok bareng dengan kamu, yang sepertinya tidak pernah berhenti itu asap, mengepul dari kamu punya mulut. Terkadang aku beranggapan, asap itu adalah akibat dari api semangat di dalam jiwa kamu. ”Heh! Konyol!”.
Tapi sebagai bukti bahwa memang jiwa kamu penuh semangat adalah, sampai saat ini. Semangat itu ada pada ketajaman gambaran pengalaman, penghayalan, pengharapan, penghayatan di dalam coretan kalimat-kalimat dari tinta sakti yang cairannya sendiri telah mengering, namun wanginya masih saja nyata. Semangat itu memang ada dan nyata. Membaca dalam sekam setiap zaman, yang sudah, yang sekarang atau mungkin kelak di masa depan. Syahdan!.
Sebentar! Aku ingin menyulut rokokku dulu, supaya asapnya sedikit dapat menggambarkan sosok kamu. Sebab asap ya asap, dari mulutku atau dari mulutmu itu tentulah asap, apalagi asap ini memang ke luar dari hasil pembakaran tembakau, dengan nama rokok. Mau yang berfilter atau yang kretek. Mudah-mudahan sosokmu yang berjiwa semangat itu, tergambarkan saat asap mengepul dari mulutku ini. ”Heh! Konyol lagi!”.
Untuk kedua kalinya, aku minta maaf atas segala keterbatasan yang masih belum juga terlebarkan, terpanjangkan, terluaskan. Semoga saja kita tidak termasuk ke dalam golongan yang apatis, kemudian enjadi anarkis. Seperti banyak contoh sekarang ini. Sebab, aku suka dengan cara kamu menulis, terkesan lebih dialogis. Seandainya dialog itu bukan hanya kesan yang dikesan-kesankan. ”Entahlah!”.
Pram! Ups! Dua kali aku patahkan nama kamu. Dan itu menambah ketidak beranianku untuk berlarut-larut bercerita tentang diri kamu. Apalagi sampailah larut. Kembali seolah-olah kita ini benar-benar pernah bersama-sama begadang dan membicarakan tentang manusia-manusia di buminya, tentang anak-anak jamannya dan tentang jejak-jejak langkahnya.
Asap ini juga yang mungkin menjadi saksi, yang mengiringi setiap ucap atau tarian pena sakti kamu dalam menyuburkan berlembar-lembar kertas, atau jari-jari besi dengan setiap hunjamannya pada abjad-abjad dari mesin ketik kamu yang sekarang mungkin sudah tua dan kamu tinggalkan. Mesin ketik yang mencetak luruh-luruh kata yang menjadi anggur segar, mungkin memabukkan. Mesin ketik yang renta sekarang.
Ah... memang sebenarnya aku tidak berani untuk menceritakan tentang diri kamu itu. Apalagi kalau harus menuliskan secara detail tentang biografi kamu, tentang buah pikir-buah pikir kamu, ceritera-ceitera kamu atau semua tentang dan milik kamu. Seolah-olah aku tahu benar kamu dari lahir sampai...
Ah... aku hentikan saja. Lama-lama aku malah semakin ngelantur untuk menceriterakan tentang kamu, lalu menjadi gosip, menjadi dongeng, menjadi hal-hal yang ke luar jauh dari diri kamu sebenarnya. Waktu sudah lamat-lamat mendekati subuh. Terbukti dengan jam dinding yang senantiasa mendetik-detik, jarumnya sudah menunjukkan pukul setengah empat kurang beberapa menit ditambah beberapa detik. Tepatnya, jarum panjangnya menunjuk angka antara angka lima dan angka enam, jarum pendeknya menunjuk antara angka tiga dan empat, jarum detiknya masih terus berdetik-detik.
Tapi sebelum berhenti. Untuk terakhir kali aku minta maaf dengan segala keterbatasanku atau semua batasan-batasan yang sedang senantiasa aku perlebar, perpanjang dan perluas itu. Mudah-mudahan aku tidak tergolong kaum penakut yang takut tulisannya tidak dibaca atau dibuang orang. ”Yang penting tulis, tulis dan tulis!”. Begitukah, Pram?!!.
Ups! Maaf, kembali kupatahkan nama kamu. Ada nada semangat dari rentet patahan nama kamu. Ini mungkin hanya banyolan konyol dari anak kecil yang suka mengatai kawannya, maklumlah aku memang masih kecil dari jamanmu hidup. Garam yang dulu kamu kecap mungkin lebih asin dari asin garam di laut yang sekarang semakin sulit untuk diamai asin.
Tapi sungguh! Seperti ceritera tentang genderang perjuangan di masa-masa perang. Berdentam-dentam! Patahan-patahan nama kamu itu. Coba dengar! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Pram... pram pram pram! Dahsyat!.
Sudah jam tiga lewat sekian... Aih... hampir jam empat, Pram! Ups! Maaf.
Solo juni 2006

Peziarahan dan Masyarakat Baru, Kolom Akhir Yunanto Sutyastomo

Peradaban terasa berjalan sangat cepat, entah ini karena perasaan kita atau perubahan yang terjadi. Tapi yang pasti kini seolah manusia terus bergerak, tidak ada ruang dan waktu untuk berhenti sejenak. Peradaban seperti seorang pertualang dengan sepeda motor DKW yang memakai jaket kulit, yang sebenarnya butuh waktu untuk berhenti di pinggir jalan. Dan punya kewajiban untuk menoleh ke belakang, agar dia tahu apa saja yang telah dilewatinya. Tapi seolah memburu waktu, tidak ada kesempatan untuk berhenti dan menoleh ke belakang.
Pesimis mengejala sebagai ketidakmampuan manusia menghadapi tantangan yang mungkin muncul pada masa-masa yang akan datang. Pembaharuan di berbagai bidang kehidupan ternyata tidak memberikan ketenangan dan rasa optimis akan hari depan. Malahan munculnya berbagai hal yang baru dalam kehidupan melahirkan berbagai persoalan yang menghadang. Tantangan tidak berhenti pada satu soal, tapi justru bereproduksi memunculkan tantangan baru.
Pertanyaan yang muncul adalah mau kemana kehidupan ini ? Seseorang pernah mengatakan hidup ini adalah peziarahan. Maka dibutuhkan masyarakat baru yang harus segera lahir sebagai jawaban atas persoalan ini, masyarakat yang membangun sebuah etik yang baru, tatanan yang baru dan memiliki masa depan yang berbeda dengan masyarakat saat ini. Tapi untuk melahirkan masyarakat yang baru dibutuhkan penyelesaian berbagai persoalan saat ini. Persoalan harus selesai bukan saja karena hal ini bentuk pekerjaan rumah, tapi persoalan ini adalah catatan penting bagi masa depan kita.
Masyarakat baru tentu harus memiliki bekal, agar dia nantinya tidak tersesat seperti masyarakat hari ini. Bekal-bekal itu haruslah cukup untuk mencapai tujuan nantinya. Peziarahan hidup tidaklah perjalanan di garis lurus, tetapi perjalanan yang panjang, melewati lembah dan persimpangan jalan. Sekali keliru mengambil jalan, dapat dipastikan sulit untuk kembali.
Sebagai sebuah tinjauan sejarah, kita mencatat dua perubahan penting di Eropa yang mampu berpengaruh hingga saat ini. Revolusi Prancis dan Revolusi Industri, yang sebenarnya kedua revolusi ini dampak pencerahan di Eropa. Revolusi Prancis membawa perubahan pada etik politik di dunia. Negara kemudian menghormati hak-hak yang ada pada warga negara. Sementara itu Revolusi Industri memberi perubahan pada tingkat kemajuan peradaban manusia di bidang ekonomi dan industri.
Saat ini peziarahan berhenti, karena berbagai persoalan yang masih belum selesai sebagai bagian hidup. Teknologi yang hadir di belakang hari ternyata tak cukup mampu untuk menjawab persoalan saat ini. Banyak hal yang tak selesai karena teknologi, justru banyak persoalan sosial yang muncul akibat munculnya teknologi.
Prolog tulisan ini yang berbicara tentang mobilitas manusia, ternyata hanyalah sebuah adegan jalan ditempat peradaban manusia. Peziarahan jadi semu, kita seperti melihat bayangan dikaca yang menjebak. Di kaca kita seperti berjalan, padahal kita masih ditempat yang kini dipijak. Kapan peziarahan mau berangkat lagi ? kita tidak tahu.
Solo, 6 Maret 2008

Ayam Kampung, cerpen M. Ikhsan

Terpengaruh oleh ilmu pengetahuan populer, aku lebih menyukai ayam kampung daripada ayam RAS. Konon kadar kolesterol ayam kampung lebih rendah daripada ayam RAS. Selain itu tidak ada zat aditif seperti hormon pemacu pertumbuhan ataupun obat-obatan. Siang itu untuk sedikit memanjakan tubuh aku nongkrong di warung ayam bakar kampung yang terkenal lezat di kotaku. Warung itu walaupun sederhana tetapi banyak dikunjungi orang-orang berdasi dan bermobil mewah. Aku tidak keki dengan kehadiran mereka, soalnya di situ kulihat juga beberapa pengunjung berkasta sepertiku, pemakai sepeda motor.
Setelah memesan ayam bakar kampung, aku mengikuti ritual menunggu yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang berdasi itu, memencet tombol HP dengan ibu jari. Bedanya HP mereka lebih canggih, sedang HP-ku sekedar bisa untuk menelpon dan SMS saja. Aku dikarunia oleh Tuhan dengan penglihatan yang tajam. Siang itu aku merasakan hal yang tidak mengenakan di warung itu. Seorang anak kecil yang kumal tampak duduk di sudut warung sambil memendam kesedihan yang dalam. Tangis kesedihannya disertai kelelahan pertanda dia telah menangis sejak lama. Anak kecil itu duduk di trotoar ditopang tangan kirinya dengan tubuh agak miring. Kedua lututnya ditekuk bersimpuh. Tidak banyak orang yang mau memperhatikan kehadirannya. Di kotaku pemandangan anak gelandangan yang kelaparan bukanlah pemandangan yang aneh. Bahkan banyak pemandangan tersebut adalah pemandangan artificial atau pemandangan buatan untuk mengetuk belas kasih kita.
Aku melanjutkan mengetik SMS untuk anak istriku sambil sekali-kali memperhatikan anak kecil itu. Di sampingku seorang lelaki bertubuh tambun bermata sipit sedang menikmati hidangan ayam bakar yang sudah tersedia. Dia berambut panjang diikat, bercelana pendek dan yang kutahu mobilnya AUDI yang terawat baik. Dari cara dia makan aku tahu dia sangat menikmati daging ayam yang disantapnya. Sesekali terdengar sendawa yang bagi orang kaya sopan-sopan saja. Tetapi kalau sendawa itu keluar dari mulutku pastilah orang-orang perlente itu akan menegur dengan pandangan matanya. Tetapi sekali lagi, aku dikaruniai pandangan mata yang tajam. Aku menangkap sebuah pemandangan yang aneh. Setiap orang tambun itu puas dengan daging ayam yang dimakannya, kulihat anak itu semakin menjadi-jadi tangisnya. Orang tambun itu tidak menyadari dan larut dalam kelezatan ayam kampung. Pemandangan itu telah membuat selera makanku hilang. Aku segera menghampiri anak kecil itu untuk sekedar ingin tahu kenapa dia begitu tersiksa setiap daging ayam itu digigit, dikunyah dan dilumat orang tambun itu.
Kupegang pundak anak itu. Tetapi dia tak menghiraukanku, perhatiannya tetap saja tertuju kepada orang tambun yang sedang menyantap ayam bakar. Aku mencoba sabar menunggu sampai orang tambun itu selesai makan. Anak kecil itu tampak lemas melihat ayam bakar ludes dimakan orang tambun itu.
“Nak, kenapa kamu bersedih melihat bapak itu makan ayam bakar. Kamu pasti lapar dan pengin makan ayam bakar seperti bapak itu ya?
Dia hanya menggelengkan kepala dan terdiam. Aku yakin dia sangat kelaparan dan kelelahan.
“Nak, mau kubelikan nasi dan ayam bakar seperti yang dimakan bapak itu?”
“Saya lapar, tetapi saya tidak mau makan ayam, saya mau makan lauknya tahu dan tempe saja.”
“Oh, baiklah tunggu ya, saya pesankan!”
Aku semakin heran dengan sikap anak itu. Kukira dia sangat ingin menikmati ayam bakar seperti yang disantap bapak tambun itu, tetapi dugaanku salah. Aku mengurungkan niatku untuk bersantap ayam bakar di warung itu. Aku meminta kepada pelayan untuk membungkus saja pesananku. Sebungkus nasi berlauk tempe dan tahu dan air mineral kuberikan kepada anak itu. Dia tampak tergesa-gesa menghabiskan nasi itu seolah-olah kesedihannya telah hilang. Aku tetap penasaran dengan dia. Kutunggui dia sampai selesai menghabiskan nasi dan air mineral itu.
“Nak, kenapa kamu tadi sangat sedih?”
Pertanyaanku seolah mengingatkan kembali kesedihannya. Dia mulai meringis menangis tanpa meneteskan air mata. Mungkin air matanya telah kering.
“Ayam saya, ayam saya dimakan bapak gendut tadi.”
“Bagaimana kamu tahu itu ayam kamu?”
“Ibu menjual ayam kesayangan saya untuk menebus obat. Kata ibu tidak ada yang bisa dijual lagi selain ayam saya. Ayam itu adalah salah satu sahabat saya selain si Meong. Saya sangat sedih berpisah dengan Thole. Saya mengikuti si Thole. Saya menyusup naik mobil yang membawa si Thole. Saya mengikuti terus sampai di warung makan itu. Saya mengawasi si Thole sampai si Thole disembelih dan digantung di situ. Saya mengamatinya terus sampai akhirnya si Thole dibakar dan dimakan bapak gendut itu.”
“Ya sudah, nanti kubelikan lagi ayam kampung untuk kamu pelihara.”
“Tidak!!! Thole dan Meong adalah sahabat saya, Thole tidak bisa digantikan oleh ayam yang lain. Di saat teman-teman saya menghindar dari saya karena takut tertular penyakit, hanya Thole yang tetap setia bermain dengan saya. Dia tidur dan makan setiap hari dengan saya, dia lebih dari sekedar ayam.”
“Kamu sakit apa?”
“Tidak tahu!!! Kata ibu sakit saya menular dan harus minum obat terus. Kenapa harus Thole yang dijual, bukannya si Meong?”
“Orang beli kucing untuk apa?”
“Kalau Thole yang dijual pasti akan disembelih, tetapi kalau Meong yang dijual pasti akan dipelihara dengan baik, diberi makan lebih enak daripada di rumah saya.”
Aku tersenyum mendengar kepolosannya. Aku mencoba menghibur.
“Nak, ayam kamu akan masuk surga, kamu suatu saat nanti akan bertemu dia di surga. Sekarang kamu pulang saja. Ibumu pasti cemas menunggumu.”
“Saya tidak tahu jalan pulang.”
“Apaaa? Coba ceritakan alamat rumahmu?’
“Saya tidak ingat letak rumah saya, saya tidak pernah pergi jauh dan saya tidak bisa membaca dan menulis.”
Aku ikut bingung seperti dia. Bagaimana aku menolongnya sedangkan dia sendiri tidak ingat letak rumahnya. Mau membawanya dia pulang takut anak-anakku tertular penyakitnya. Selain itu rumahku sudah penuh dengan penghuni. Dia mulai panik dan memanggil-manggil ibunya. Tangisnya semakin menjadi, menarik perhatian pengunjung warung makan itu. Akhirnya anak itu kubawa ke panti asuhan dan melaporkannya kepada polisi.
Dari kejauhan kulihat anak itu menangis dan menangis memanggil nama ibunya, si Thole dan si Meong. Bungkusan ayam bakar yang kubeli dari warung kuberikan kepada tukang kebun panti asuhan. Sejak saat itu aku tidak mau lagi makan ayam kampung. Aku takut memakan sahabat kesayangan seseorang, sahabat orang-orang miskin. Aku lebih suka memakan ayam RAS hasil dari peternakan orang-orang kaya.
***
Purwokerto, 19 Januari 2006