Thursday, 5 October 2017

Puisi-puisi Mashuri



PELEYAN
: catatan berburu kenangan


Reruntuhmu menjulang di buku-buku ---seperti nasib
Majapahit yang kini gaib. Tapi menapaki tilas di pematang,
di antara kebon tebu, pecahan batu-batu, kisah-kisah hantu,
tak kutemu mercu itu. Mungkin kau 'lah hijrah ke alam entah
dan inderaku alpa mengikuti denah yang terwarta
dalam tilas yang bernama sejarah

Kutha Beddah, ranahmu berdiwana, kini tinggal ceritera
tamansari yang dihuni peri kejam dan jelita; tugu Portugis,
benteng VOC, bong Cina, dan jejak artefak yang
menyempurnakan wujudmu, tinggal gerimis yang tak
menyuarakan irama

Lewat pintu mana, aku harus mengetukmu, bila rumahmu
tinggal rangka. Lewat jalan mana, aku menujumu, jika seluruh
lorong tertimbun batu-batu dan tanah. Mungkin aku
mengenalmu tanpa pernah bertemu, kerna kabar yang sampai
di dadaku, ‘lah membuat seluruhku bergetar dalam hasrat
menggebu.

O melankoli. O sepi. O ceruk liturgi

Kelak, dalam bahasa kanak, entah lewat tembikar atau onak,
bakal kurakit kisah-kisah tanpa rasa sakit. Kisah yang tertuang
dalam madah-madah baru, dengan notasi bertumpu
reruntuhmu: kolam mungil, keruh, dan harap-harap gemas
pada lekukmu. Nyanyian masa lalu pun terdengar utuh,
mengendap di bukit-bukit ingatan, menjadi senandung pujian
para nelayan, dan bakal digurat di buku-buku yang berombak
di pantai pengetahuanmu yang kini dicekik paceklik
berkepanjangan

Situbondo, 2017




PECARON
: cinta pertama sang laron


Rembulan tak lagi utuh, o cintaku, seperti donat yang disayat
gigi susu anak- anak sewindu --ceritera pun tak lagi
berkumpar pada taring Batara Kala, o belahan hatiku, kerna
dalam ritus selingkuh dengan jilmaan Uma palsu, gigi itu tak
setajam dulu.

Tak tahukah kau, di sini, anak cucumu kerap bermain nujum
tanpa niat bernubuat dan bersijabat dengan penguasa
keramat gelap. Kerna jarum jam zaman lebih tajam dari
tebasan sejuta parang dan kalam

Kepadamu o, sang pengelana dunia, kutitipkan
sisa bayang-bayang bumi di balik kelir takdirmu; kulingkarkan
segenap korona, mengganti gelap dengan harapan-harapan
tuk sempurna menapaktilasi jejakmu.

Tapi entah kenapa kenangan masa lalu selalu menyaru cinta
pertama. Ia menjadi hantu, sekaligus penggoda yang begitu
perkasa membalik mata: galaksi pun tak mengenal bumi
bundar, tapi tanah datar, seperti lapangan tanpa bola. Karena
itulah, o pelukis darah di tubuhku, kurelakan sayap-sayapku
luruh menuju cahaya, yang berkumpar di damarmu.

Situbondo, 2017



BUKIT KENDIT


Namamu terukir di bonggol jati, beratus windu,
saat almanak masih mati dan tak berlaku; kini
namamu masih berarus di ingatan kanak-kanak
meski penanda tanggal telah tanggal dari
pengaitnya. Sungguhkah kau hanya mampir
ke puncak bukit kendit untuk menyampirkan lusuh
hati karena lelakimu terus mendaraskan bait-bait
panjang ihwal pengkhianatan yang tak terbukti.
Jika kelak, kubaca jejak kota tetangga dengan tajuk
banyuwangi, sungguhkah di sana, kau membunuh
diri. Tapi di bukit kendit tak kutemu tilasmu
kendat. Malah di kelopak jati dan beringin yang
menaungi tilasmu, membekas detak hati dan arus
angin. Seperti kereta yang mematri namamu, aku
melangkah dengan peta sederhana. Dan,
menemukanmu dalam syair-syair pujian yang
dilakukan lelaki dusun telah menyusun sosokmu
yang lain: Sungguhkah kau pancaran sita, meski
ramamu hanya sidopekso dan tak pernah
mengalahkan dasamuka dalam wujud hantu-hantu
hutan yang memanjang dari Hyang, sebab kota
kini yang disusun di bawahmu mengingatkanku
pada jembatan yang dibangun oleh pasukan kera
menuju alengka, situbanda... Ataukah kau hanya
perempuan dusun yang gandrung mengukir dan
menenun...

2017



ELEGI MUTANABBI


Kenapa kau disebut mutanabbi, sungguhkah ketika kau
menulis puisi ---tumbuh intuisi, serupa wahyu, yang menyaru
burung parkit yang merakit suara-suara langit; ataukah
di tubuhmu mengalir darah nabi, dan keharuman itu membuat
musuh-musuhmu melenguh seperti banteng yang melihat
merah di sekujurmu, hingga kau dituduh mungkar dan
pendusta.

Dengan kefakiran tafsirku, o mutanabbi, kubaca
diwan-diwanmu dengan ringkih imajinasi. Kuingin menangkap
burung-burung gelisahmu dan menyangkarkannya di dadaku,
kuingin mencium darah wangimu yang menguar dari sela-sela
kuku, tempat dulu dawat tinta membasahi pena dan kalbu.

Kini di majelismu aku duduk dan berharap masa lalu tidak lagi
berulang jalang, dengan tangis tanpa air mata dan cacat netra
dalam memandang jalanmu. Sebab burung bukan amsal
merdeka dan darah tak selalu melulu luka. Mungkin
moyang kita sama dan kerinduan kita terbuhul dalam madah
yang kita sederhanakan dalam kefasihan bahasa, meski
di belakang kita: berderet akal, sejarah, dan hasrat mengenali
seluruh lubang dan luka.

2017




ILUSI HUJAN


Hujan datang dan pergi serupa trayek bus kota. Saat gerimis
mulai ritmis, seorang ibu mengenakan mantel koyak untuk
melindungi anak kecilnya. Entah kenapa, kuingat sosok yang
beraut sembilu, berdarah, dan papa. Dulu, sempat kulihat
di katedral tua, dengan duri mawar abadi menghias kepala,
dengan telapak tangan berlubang yang terus saja nganga,
dengan kaki bertilas pasak dan merah. Ibu itu terus menyeret
kakinya di antara rintik air yang semakin mengalir. Bibirku
berbisik: "maria, maria!"

Malang, April 2017




Mashuri lahir di Lamongan, 27 April 1976.
Menekuni hal-ihwal yang berbau tradisional dan
religiusitas. Buku puisinya yang akan tebit adalah
Dangdut Makrifat. Kini tinggal di Sidoarjo dan
menjadi pengkaji dan peneliti sastra di Balai
Bahasa Jawa Timur. Hubbu adalah prosanya yang
memenangkan juara 1 Sayembara Penulisan Novel
DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2006.




No comments:

Post a Comment