Monday, 21 May 2018

Pemecahan Dimensi Waktu dalam Rekayasa Perang dan Kerinduan Asmaraloka, oleh Ruly R.


Asmaraloka dibuka dengan cerita yang sukar dinalar ketika pembaca disuguhkan langsung adegan seorang perempuan mengikuti malaikat pencabut nyawa yang memanggul mayat suami perempuan tersebut. Dalam indera sebagian kita mungkin akan menangkap sebuah hal yang tidak lumrah, tapi ketidaklumrahan itulah yang coba digarap Danarto. Kalau kita yang menulis, mungkin perempuan itu akan langsung takut ketika berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Tapi di Asmaraloka, Danarto justru membuat anomali dengan menciptakan tokoh perempuan yang bernama Arum yang terus mengikuti malaikat pencabut nyawa. Danarto seakan memberi keajaiban sifat gigih dan semangat yang membara pada perempuan itu, hingga akhirnya dia kehilangan jejak malaikat pencabut nyawa yang sebenarnya tak punya jejak, dan sampai pada sebuah pondok pesantren milik seorang kyai dan medan perang.
Sebagian besar novel dengan latar perang mungkin akan ditulis dengan gaya yang menghadirkan penderitaannya secara langsung, tapi tidak dengan novel Asmaraloka. Justru di novel ini ada semacam sarkasme besar yang diusung Danarto. Bagaimana perang justru menjadi komoditi selayaknya barang dagangan. Penciptaan perang yang terus berlangsung dan rangkaian perasaan menang dari masing-masing pihak akhirnya membentuk pemahaman baru dan pertanyaan yang akhirnya dikembalikan pada diri masing-masing. Benarkah perang memang hanya bentuk buatan dari sebagian orang atau kelompok? Danarto tidak memberi pemecahan terhadap problem yang hadir, melainkan dengan narasi-narasi kuat dalam ceritanya ada sebuah kerinduan akan suatu perasaan di mana sebagian besar manusia sebenarnya lebih menginginkan kedamaian. 
Menukil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Asmaraloka berarti dunia (alam) cinta kasih. Lewat novel Asmaraloka, Danarto menarik sebuah relativitas yang besar. Sebuah penggambaran tentang benar dan salah tidak lagi kentara, tapi perasaan akan pertentangan yang berkesimpulan pada masing-masing yang merasa paling benar itu sendiri. Pemecahan dimensi waktu digunakan sebagai media pengantar pada konflik yang terus timbul. Kehadiran yang paling jelas diciptakan dengan kembali hidupnya satu tokoh yang bernama Kyai Ora Weruh. Danarto seakan memberi pengertian lain pada sebuah kehidupan yang sebenarnya fana selayaknya perang yang ada dalam novel Asmaraloka.
Jika Baudrillard—pemikir Prancis pernah berargumen tentang situasi di mana batas-batas realitas dan yang bukan realitas sudah kabur, Danarto justru menabrak batas-batas ruang realitas yang mungkin dipikirkan sebagian besar dari kita. Percakapan dalam Asmaraloka dihadirkan dengan gaya yang rumit namun langsung mengena pada pembaca, sehingga secara umum pembaca digiring dalam balutan kesadaran yang selalu diperbarui. Tapi satu hal yang mungkin sebenarnya ingin terus dikatakan Danarto dalam novel ini adalah bagaimana tanpa waktu yang terbatas manusia terus berperang bukan dengan yang lain, melainkan melawan dirinya sendiri. []

// Ruly R, bergiat di Kamar Kata Karanganyar

No comments:

Post a Comment