Gosip, Sastrawan, dan Keluarga, oleh Istichomatul Chosanah



Saya masih ingat! Lima tahun yang lalu, 2012, seorang teman bercerita lewat telepon. Ia membawa kabar dari Candi Borobudur yang kala itu sedang menjadi tempat penyelenggaraan pementasan puisi oleh Forum Penyair Internasional-Indonesia (FPII). Ia hadir di sana lantaran diajak gurunya. Konon, penyair-penyair andal tumpah ruah. Pembacaan puisi berlangsung di malam hari. Selebihnya, jalan-jalan dan diskusi. Begitu seterusnya selama tiga hari. Teman saya bilang, ia teramat senang sebab bertemu banyak sastrawan. Ia tidur sekamar dengan ... . Bersebelahan dengan kamar ... bersama kekasihnya. Ah, untung dia tidak tidur dengan kekasih ....
Teman melanjutkan cerita. Bulan-bulan berikutnya, ia bertemu Selendang Sulaiman, penyair penggarap buku Hymne Asmaraloka, di sebuah warung kopi. Selendang duduk membaca buku terbitan FPII. Ia tampak nikmat. Teman tergesa bertanya, sebab dulu ia tak menjumpai S turut serta dalam acara FPII. Ternyata, Selendang mendapat buku itu dari kekasihnya, .... Teman kaget. Ia ingat perempuan itu yang saat di FPII bersama .... S menjawab: “Setelah sama ..., dia sama saya. .... itu tidak jelas. Janji mau dinikahi, tapi tak lekas.”
“Oh begitu?” jawab teman.
Saya bergairah. Orbolan sastra jadi mirip obrolan gosip. Saya memperbaiki posisi speaker ponsel sembari bersemangat mendengarkan. Agar lebih enak. “Terus-terus!” Teman bercerita kembali. Ia dan S mengobrol ngalor-ngidul tentang sastrawan, karya, teman, kesibukan, dan sebagainya. Banyak dan lama. Selendang cerita kalau ia sedang proses nggarap skripsi tentang puisi R. Selain karya yang banyak, ia juga punya wanita di mana-mana. Maklum, penggemarnya banyak, dan tidak dipungkiri, orangnya bagus. Teman menutup pembicaraan tema itu.
Ingatan menyapa ingatan yang lain. Pada 2013, stasiun televisi dan surat kabar gencar mengabarkan SS yang dilaporkan ke polisi. SS dituduh melakukan tindakan tidak menyenangkan, asusila. Meski tidak sedikit kabar yang menyebut, itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Terlepas dari suka atau terpaksa. Harus kita sadari bahwa Sitok-lah yang telah berbuat. Sementara, saat itu ia memiliki istri dan anak. Dengan begitu, bisa saya katakan SS tidak setia.
Dari situ perasaan heran saya mencuat. Mereka yang saya ceritakan adalah sastrawan besar. Namanya sudah dikenal banyak orang. Karyanya banyak diapresiasi, mendapat penghargaan, dan menjadi percontohan. Akan tetapi, kisah pribadi mereka aneh. Suka bercinta, tak suka berumah tangga.
Misalnya saja, sastrawan sekelas R. Namanya tidak diragukan dan semua orang mafhum. Begitu pula karyanya. Ternyata punya wanita di mana-mana. Di samping sudah berganti istri sebanyak tiga kali. Sitok tidak berganti-ganti istri. Tapi tidak setia. ... memutuskan berpisah dengan istrinya, dan belum ada kabar menikah lagi. Meski sempat menjalin hubungan dengan .... Artinya, sekarang dia “sendiri”. Ayu Utami yang konon berkomitmen tidak hendak menikah, akhirnya menikah di usia yang tak lagi muda. Lebih aneh lagi Teguh Karya. Ia bergelut di bidang teater dan banyak meraih penghargaan. Akan tetapi, ia lebih memilih hidup lajang hingga akhir hidupnya.
Bagi sebagian orang apresiasi karya tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan pribadi pencipta. Tapi bagaimana mungkin, kekaguman saya pada karya lantas tidak berlanjut pada penciptanya. Tentu sebagai pembaca, kita akan mencari tahu atau sekadar membaca biografi. Dan yang saya temukan adalah kejanggalan dalam asmara dan keluarga. Terus terang saya bersedih. Karir sastrawan-sastrawan besar itu gemilang. Karyanya monumental. Terhadap karya-karya tersebut saya sering berdecak kagum. Sayang, ada sisi lain yang harus cacat di samping kepengarangan yang hebat.
Saya sempat menaruh curiga pada kegiatan bersastra. Tak dielakkan memang dalam bersastra ada proses kontemplasi. Proses yang egois. Ada rutinitas membaca dan menulis. Mungkin saja, ketekunan membaca dan menulis ini yang mengganggu stabilitas rumah tangga. Sebab, ritual tersebut menjadi hal yang tidak bisa diganggu gugat. Seperti pengakuan Teguh Karya. Ia mengatakan bahwa di dalam dirinya ada ‘kamar-kamar’ untuk kreatifitas, negara, teman, dan lain-lain. Dan ‘kamar’ rumah tangga setiap orang punya urutan yang berbeda.
Sebuah lagu tentang keluarga yang populer tahun 1990-an. Begini liriknya: Harta yang paling berharga adalah keluarga/ Istana yang paling indah adalah keluarga/ Puisi yang paling bermakna adalah keluarga/ Mutiara tiada tara adalah keluarga. Dalam lirik lagu berjudul Keluarga Cemara tersebut menunjukkan kalau keluarga tinggi derajatnya. Ia digambarkan sebagai harta yang tidak ternilai. Bangunan yang melebihi keindahan yang sanggup dibayangkan. Bahkan keluarga adalah makna terdalam dari segala dalam-dalam puisi. 
Begitu tak terhingga harga dari keluarga. Lalu, ada apa gerangan dari banyak sastrawan memperlihatkan posisi keluarga menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral? Pembagian waktu dan skala prioritas antara bersastra dan keluarga agaknya sudah tidak diperhitungkan. “Kamar” keluarga tidak berada dalam urutan depan. Tentu saya terheran-heran dengan dengan cara berpikir para sastrawan. Atau, barangkali kemampuan pikir saya yang memang “tidak sampai” menjangkau pola pikir mereka. Keluarga hanya kebutuhan sekunder sehingga tidak perlu susah-susah mengeluarkan tenaga untuk berupaya dan menseriusinya.
Jika boleh berandai, dalam dua, tiga, empat, atau bahkan lima tahun ke depan, saya mencita-citakan sebuah keluarga kecil. Punya tempat berbagi suka dan duka. Kelak punya anak. Cucu untuk ayah ibu. Rumah yang mungkin sederhana saja, berpekarangan. Kecil tak apa. Oh, alangkah indahnya! Saya pembaca, manusia biasa. Kodratnya punya rasa seandainya dan mimpi berkeluarga. Tapi, sastrawan juga manusia. Kenapa seperti tak terlihat punya target kehidupan masa depan tentang keluarga? Sastrawan-sastrawan di Indoesia maupun mancanegara, banyak yang memiliki riwayat keluarga yang kurang sempurna. Tidak semua, tapi banyak. Sukses berkarya, tapi gagal berkeluarga. Ah! ||

Tags:

Share:

0 komentar